HARI PERAWAT SEDUNIA

Tema Hari Perawat Sedunia Tahun 2011 adalah “Closing the gap: Increasing access and equity“. Sebagaimana kita sadari bersama bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas masih menjadi problem di semua negara di dunia termasuk di Indonesia. Selain akses, persoalan keadilan yaitu pelayanan kesehatan yang cenderung diskriminatif juga menjadi hal yang sangat nyata dirasakan oleh masyarakat kita saat ini, khususnya bagi masyarakat yang berasal dari kelompok miskin. Indonesia masih sedang mencari formula yang tepat untuk mengatasi kedua problem kesehatan ini, baik dari sisi memperluas akses pelayanan kesehatan maupun dari aspek menjamin keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Perawat merupakan tenaga kesehatan dalam jumlah terbesar di Indonesia, yaitu hampir mencapai 60%. Dibandingkan dengan dokter, tenaga perawat merupakan tenaga kesehatan yang saat ini hampir terdistribusi secara merata di setiap desa di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Memang masih ada beberapa daerah terpencil dan daerah perbatasan yang belum ada tenaga perawatnya, namun secara garis besar perawat merupakan tenaga kesehatan dalam pilar terdepan yang akan menentukan wajah pelayanan kesehatan di Indonesia. Fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas Pembantu hampir dipastikan tidak diisi oleh tenaga medis seperti dokter umum dan dokter gigi, tetapi oleh perawat. Ironisnya, saat ada kasus perawat seperti Misran di Kalimantan Timur yang dengan spirit pengabdiannya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat seperti dokter, justru hukum malah menjerat dia dengan tuduhan sudah melakukan tindakan di luar kewenangan. Bagaimana mungkin perawat-perawat di Pustu di pelosok bisa menolak masyarakat yang membutuhkan pelayanan jika pada saat yang sama perawat-perawat juga merasa terancam “masa depannya” dan bahkan dirampok ‘rasa amannya’ oleh regulasi pemerintah yang diskriminatif. Jika para dokter telah memiliki payung hukum UU No. 29 Tahunn2005 sebagai dasar hukum bagi penyelenggaraan praktik kedokteran, nah giliran perawat yang sudah hampir 3 – 4 tahun memperjuangkan RUU Keperawatan, mengapa para wakil rakyat di DPR terus menunda-nunda pembahasannya???? Saatnya para perawat dan mahasiswa keperawatan yang menjadi calon perawat untuk memperjuangkan bersama agar RUU Keperawatan segera dibahas dan disahkan DPR!!!!

2 Tanggapan

  1. Setuju Pak !!!, Cuma masalahnya begini, bagaimana RUU Keperawatan bisa disahkan sementara kita sendiri (perawat) tidak mengakui diri kita sebagai perawat. Contohnya nih pak :
    ” Sebagian besar teman-teman di kelas Non Reg Keperawatan sudah tidak ingin melanjutkan pendidikan dalam hal ini adalah program profesi ners dengan alasan Profesi Perawat belum diakui sebagai profesi”
    Singkatnya : Akui dulu dirimu sebelum engkau meminta pengakuan dari orang lain.

  2. Setuju Pak !!!, Cuma masalahnya begini, bagaimana RUU Keperawatan bisa disahkan sementara kita sendiri (perawat) tidak mengakui diri kita sebagai perawat. Contohnya nih pak :
    ” Sebagian besar teman-teman di kelas Non Reg Keperawatan sudah tidak ingin melanjutkan pendidikan dalam hal ini adalah program profesi ners dengan alasan Profesi Perawat belum diakui sebagai profesi”
    Singkatnya : Akui dulu dirimu sebelum engkau meminta pengakuan dari orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s