Perawat dan Kesiapsiagaan Bencana

peristiwa Meletusnya Gunung Merapi dan Tsunami di Mentawai memang peristiwa bencana yang cukup hangat di ulas bahkan banyak posting di wordpress Indonesia yang membahas dan mengulas peristiwa ini sehingga semakin ramai dan semakin menaikan trafic kunjungan pembaca di blog yang mengulas peristiwaMeletusnya Gunung Merapi dan Tsunami di Mentawai.

Dari perspektif perblogan saja ternyata sudah bisa dilihat bahwa ternyata masyarakat kita baik di dunia nyata maupun di dunia maya masih sungguh reaktif terhadap fenomena bencana yang terjadi.

Reaktif yang dimaksud di sini adalah ternyata yang terekam kuat dalam memori kita adalah secepatnya kita berespon terhadap peristiwa bencana. Alias fase tanggap darurat.

Kalau dalam dunia nyata begitu ada bencana langsung serentak masyarakat berespon untuk segera ingin memberikan pertolongan secepat mungkin, bahkan mungkin ingin segera menunjukkan kepedulian dan pertolongan secepat mungkin.

Kalau dalam dunia maya reaksi kepedulian ini sangat cepat terlihat begitu terjadi Meletusnya Gunung Merapi dan Tsunami di Mentawai langsung sang bloger berlomba-lomba untuk posting tulisan tentang bencana Meletusnya Gunung Merapi dan Tsunami di Mentawai,.. dari positngan yang sifatnya ilmiah sampai dengan postingan yang bersifat mistik/klenik mencoba untuk merebut perhatian pembaca dan manunjukkan betapa bloger-bloger kita peduli terhadap bencana Meletusnya Gunung Merapi dan Tsunami di Mentawai.

Pertanyaannya adalah apakah salah kalau kita bersikap langsung bereaksi terhadap kondisi bencana yang terjadi dan dengan filosofi unit reaksi cepat kita semua bereaksi terhadap peristiwa dan segera memberikan pertolongan baik berupa tenaga, duit, makanan, pakaian, selimut, obat-obatan sampai sumbangan yang bersifat pemikiran misalnya posting di blog kaitannya dengan bencana yang terjadi ? Tentu tidak.. karena pertolongan yang cepat sangat diperlukan.

Sebenarnya dalam penanganan bencana setidaknya ada empat tahapan, yaitu :

  • prevention / pencegahan
  • preparednes/ kesiapsiagaan
  • reaction / tanggap darurat
  • recovery / pemulihan

Saat ini sepertinya masyarakat kita masih berfokus pada fase reaction atau tanggap darurat, dimana fokus penanganan bencana masih seputar pertolongan di saat terjadi bencana. Kondisi ini sudah cukup bagus.

Recovery lokasi bencana juga sudah banyak dilakukan terutama oleh pemerintah dan keterlibatan LSM baik dalam dan luar negeri.

Fase penanganan bencana yang belum populer dan belum banyak disentuh adalah pada fase prevention dan preparedness. Hal ini mungkin karena keadaan bencana yang belum terjadi sehingga kita lengah. Padahal potensi bahaya / bencana sudah ada di depan mata, tetapi karena selama ini tidak terjadi apa-apa sehingga kita tidak  sempat terpikir untuk pencegahan dan persiapan bila bencana itu terjadi.

Pencegahan dan persiapan bencana memerlukan keterlibatan banyak sektor. Pada fase ini termasuk diantaranya pelatihan penanggulangan bencana, mitigasi bencana, pembuatan kontigensi plan, persiapan team bencana, dan sebagainya.

Peran perawat dalam kesiapsiagaan bencana juga sangat berperan diantaranya persiapan team, pelatihan sampai ke simulasi penanganan bencana baik yang bersekala “bencana kecil” maupun bencana sesungguhnya yang berskala besar.

Ada kejadian yang aneh tapi nyata seputar kesiagaan perawat dalam menghadapi bencana setidaknya ada 2 cerita yang cukup menarik :

Tanggal 21 Mei 2206 Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (HIMIKA) PSIK UGM Yogyakarta mengadakan Seminar Regional Keperawatan “NURSING IN DISSASTER : VULCANO ERUPTION BURNING INJURY”, pelaksanaan seminar tersebut satu minggu sebelum Gempa Jogja 27 Mei 2006

HIPGABI….Himpunan Perawat Gawat Darurat dan bencana Indonesia….merupaka n salah satu dari Badan Pelengkap PPNI. Dalam rangka sosialisasi dan mengembangkan jejaring pelayanan keperawatan gawat darurat di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta akan menyelenggarakan kegiatan Temu Ilmiah Perawat Gawat Darurat Se-DKI Jakarta yang diikuti oleh perawat gawat darurat dan perawat yang memiliki interest kepada pelayanan keperawatan gawat darurat di DKI Jakarta pada tanggal 14 Februari 2009 di Auditorium Universitas Muhammadiyah Jakarta di Cempaka Putih Jakarta Pusat.

Begitu pesan singkat yang terekam dalam website PPNI www.inna-ppni.or.id, apakah acara tersebut jadi atau tidak, 2 minggu setelah tgl 14 Februari, pada tanggal 27 Maret 2009 Tanggul Situ Gintung jebol dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Jl KH Ahmad Dahlan, Tangerang, Banten yang dekat dengan lokasi bencana Situ Gintung digunakan sebagai tempat penampungan pengungsi.

Mungkin dua kejadian di atas hanya kebetulan saja, yang jelas perawat musti siap dan berperan aktif dalam penanganan bencana, dari prevention, preparedness, reaction dan rehabilitation.

Sumber: banyumasperawat

Satu Tanggapan

  1. “Kreatif” juga nih boss .. daur ulang mengganti “jebolnya situ gintung” dengan “meletusnya merapi dan tsunami mentawai” he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s